65 tahun merdeka

kalau bicara tentang kemerdekaan bicaralah juga tentang kebebasan, kesejahteraan rakyat indonesia, apa arti merdeka bila masih banyak manusia gerobak, lebih baik negeri di bawah kekuasaan negara lain namun memberi kebebasan dan kesejahteraan, para pahlawan kemerdekaan berharap setelah merdeka indonesia berdiri menjadi negeri yang besar, maju, rakyatnya sejahtera, adil dan makmur namun ditengah perjalanan dalam mengisi kemerdekaan banyak orang2 yang hanya mementingkan diri sendiri, tidak amanah serta tak tahu diri

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Tak Berkategori

s e p e d a

Berbagai hal mengenai sepeda baik yang berasal dari hasil studi, penelitian maupun standar kebijaksanaan (NSPM) antara lain :
Sepeda sebagai salah satu moda transportasi darat
Menurut Khan (1994) pesepeda hanya memerlukan capital cost yang kecil untuk kendaraan dan memerlukan infrastruktur yang lebih sedikit serta tidak menimbulkan polusi udara maupun suara, sehingga sarana transportasi ini merupakan sarana transportasi yang ramah terhadap lingkungan.
Menurut Susanto dan kawaan-kawan (1998) kini pengguna sepeda sebagai transportasi moda utama sering diindetikkan dengan masyarakat ekonomi kelas rendah, waktu bagi mereka bukan merupakan nilai yang perlu diperhitungkan. Jadi lebih baik naik sepeda dari pada menumpang kendaraan umum yang harus mengeluarkan biaya ekstra.
Keunggulan dan kelemahan moda transportasi sepeda
Keunggulan sepeda disbanding kendaraan bermotor adalah sepeda memberikan beban yang lebih kecil kepada lingkungan, hanya memerlukan energi yang sedikit dan biaya operasional yang diperlukan relatif kecil. Sedangkan kelemahan sepeda antara lain sulit untuk menempuh perjalanan jauh karena dijalankan oleh tenaga manusia. Bersepeda di daerah berbukit atau saat hujan dirasa kurang nyaman bila dibandingkan dengan mengendarai mobil, dan dilihat dari cara mengendarainya mudah mengalami kehilangan keseimbangan sehingga menimbulkan kecelekaan bagi pengendaranya. (Susanto dkk, 1998).
Tingkat kecelakaan dan keselamatan pada pengendara sepeda
Terjadinya kecelakaan pesepeda tidak selalu ditimbulkan oleh satu sebab tetapi oleh kombinasi berbagai efek dari sejumlah kelemahan atau gangguan yang berkaitan dengan pemakai dan lingkungannya misalnya tata letak kota, kebijakan lalu lintas, kondisi lingkungan (permukaan jalan), waktu, cuaca dan lain sebagainya. (Hobbs, 1995)
Menurut Mikko Rasanen (1997) keamanan merupakan hal yang sangat penting dalam berlalu lintas sehingga diperlukan kesadaran dan perhatian dari pengguna jalan khususnya pengendara sepeda itu sendiri terhadap peraturan-peraturan lalu lintas seperti marka jalan dan rambu-rambu lalu lintas yang ada.
Mencermati uraian pendapat di atas dapat disimpulkan kecelakaan yang dialami pesepeda disebabkan karena kurangnya daya dukung lingkungan terhadap lalu lintas sepeda. Daya dukung lingkungan diantaranya adalah ketersediaan fasilitas dalam berlalu lintas bagi pengguna sepeda, sehingga pesepeda merasa aman dalam mengendarai sepeda di jalan raya tanpa ada rasa takut terserempet atau tertabrak kendaraan bermotor.
Asumsi sepeda dalam arus lalu lintas
Kendaraan tak bermotor dalam MKJI 1997 adalah kendaraan dengan roda yang digerakkan oleh tenaga orang atau hewan meliputi sepeda, becak, kereta kuda dan kereta dorong sesuai klasifikasi Bina Marga. Sebagai catatan kendaraan tak bermotor tidak dianggap sebagai bagian dari arus lalu lintas tetapi sebagai unsure dari side barrier (hambatan samping) (MKJI Ditjen Bina Marga, 1997). Sepeda dianggap sebagai hambatan samping karena kemampuan bergeraknya yang rendah dan tidak merupakan kendaraan bermotor, sehingga dikategorikan kendaraan lambat.

Tinggalkan komentar

Filed under bbm, transportasi

konsep kota kompak

Dalam berbagai diskusi tentang pola-pola ruang dan bentuk kota yang berkelanjutan wacana yang diistilahkan sebagai kota kompak (compact city) tampaknya telah menjadi isu paling penting dewasa ini. Perhatian besar saat ini telah memfokuskan pada hubungan antara bentuk kota dan keberlanjutan, bahwa bentuk dan kepadatan kota-kota dapat berimplikasi pada masa depan mereka.
Darai debat itu argument-argumen yang kuat sedang dimunculkan bahwa kota kompak adalah bentuk kota yang dianggap paling berkelanjutan. Inilah yang diungkapkan oleh Mike Jenks, Elizabeth Burton dan Katie Williams (1996) dalam buku mereka yang berjudul Compact City : A Sustainable Urban Form ? buku ini juga sekaligus mengajukan berbagai opini dan riset dari serangkaian disiplin ilmu, dan memberikan suatu pemahaman dari debat teoritis dan tantangan-tantangan praktis yang melingkupi gagasan kota kompak ini. Tidak dipungkiri bahwa gagasan kota kompak didominasi oleh medel dasar dari pembangunan yang padat dari banyak kota-kota bersejarah di Eropa. Maka tidak mengherankan jika para penganjur paling kuat bagi kota kompak adalah komunitas Eropa (Commission of the European Cummunities).
Kota kompak ini memang digagas tidak sekedar untuk menghemat konsumsi energi, tetapi juga diyakini lebih menjamin keberlangsungan generasi yang akan datang. Jenks menyebutkan bahwa ada suatu hubungan yang sangat kuat antara bentuk kota dengan pembangunan berkelanjutan, tetapi sebenarnya tidaklah sesderhana itu atau bahkan langsung berbanding lurus. Ini seolah-olah telah dikesankan bahwa kota yang berkelanjutan adalah “Mesti terdapat suatu ketepatan dalam bentuk dan skala untuk berjalan kaki, bersepeda, efisien transportasi masal, dan dengan kekompakan dan ketersediaan interaksi social” (Elkin et.al., 1991, p.12).
Namun demikian dalam kota kompak ini terdapat gagasan yang kuat pada perencanaan “urban containment” yakni menyediakan suatu konsentrasi dari penggunaan campuran secara sosial berkelanjutan (socially sustainable mixed use), mengkonsentrasikan pembangunan-pembangunan dan mereduksi kebutuhan jalan hingga mereduksi emisi kendaraan-kendaraan. Oleh karena itu promosi penggunaan Public Transport (transportasi public/masal), kenyamanan berlalu lintas, berjalan kaki dan bersepeda adalah sering dikutip sebagai solusi (Elkin et.al., 1991, Newman, 1994).
Lebih lanjut melalui perencanaan efisiensi penggunaan jalan, yang dikombinasikan dengan skema daya listrik dan pemanasan, dan bangunan hemat energi juga dapat mereduksi emisi-emisi polutan yang beracun. (Nijkamp and Perrels, 1994; owens, 1992). Kepadatan tinggi dapat membantu membuat persediaan amenities (Fasilitas-fasilitas) dan yang secara ekonomis viable, serta mempertinggi keberlanjutan social (Houghton and Hunter, 1994).
Menerapkan secara penuh gagasan kota kompak bagi perencanaan kota-kota di Indonesia jelas masih membutuhkan kajian, studi dan riset tersendiri. Bagaimanapun konsep kota kompak bukanlah konsep yang kaku dan sederhana yang menggambarkan sebuah bentuk kota tertentu. Adanya perbedaan masing-masing karakteristik kota dan hudaya masyarakat yang menghuninya harus dimaknai bahwa kota kompak juga perlu dilihat dalam konteks kekhasan budaya, ekonomi dan identitas fisik kotanya saat ini untuk perubahan kota (urban change) di masa datang yang lebih baik dan efisien.
Namun ada hal yang sudah pasti yakni jika kita melihat kota-kota besar di Indonesia saat ini seperti Jakarta dan Surabaya, adalah terjadinya perkembangan kota yang padat dan semakin melebar secara horisontal tanpa batas yang jelas. Pelebaran ini mengakibatkan munculnya kota-kota pinggiran yang menjadi penyangga akibat perkembangan kota Jakarta seperti kota Depok, Bogor, Bekasi, Tangerang dll. Banyak pegawai yang tinggalnya di Jakarta tetapi tinggalnya di kota-kota pinggiran tersebut hal ini sudah dipastikan adany inefisiensi waktu, tenaga, dana, sumber-sumber energy dan lain-lain. Maka membangun kota yang padat dan vertikal sudah menjadi sebuah kemestian bagi perkembangan kota Jakarta dan kota-kota lainnya di masa yang akan datang.
Inefisiensi itu lebih diperparah lagi ketika perkembangan kota-kota besar itu belum diiringi denga penyediaan transportasi masal yang representatif dan memadai. Bagi kota-kota besar di Indonesia, dalam hal ini penyediaan transportasi public misalnya busway, monorail dan berbagai jenis mode transportasi masal jelas sesuatu yang tidak bisa di tawar-tawar lagi. Kemacetan di kota-kota besar akibat meningkatnya volume kendaraan karena bertambahnya pengguna mobil pribadi adalah sesuatu yang mesti segera di akhiri. Pada akhirnya konsumsi energi khususnya minyak BBM yang harganya fluktuatif itu diharapkan juga bisa sangat terkurangi.

Tinggalkan komentar

Filed under bbm, tata ruang, transportasi

perlukah jalan dilebarkan…??

Sebentar lagi jalan di gambutku udah semakin lebar, maksudnya jalan arteri (jalan A. Yani) soalnya sedang mengalami pelebaran ruas jalan yang kurang lebih 3 meter disetiap sisinya, gak tau apa maksud dari pelebaran tersebut, sebab kalau dilihat secara kasat mata kapasitas jalan masih mencukupi dalam artian derajat kejenuhannya gak sampai angka 0,5, mungkin untuk antisipasi di masa yang akan datang (wow…so good…) tapi saya ragu…. sebab saya belum pernah melihat, mendengar atau apapun tentang analisa bangkitan perjalanan untuk ruas jalan tersebut, jadi maksudnya apa ya……???
Saya berpikir mungkin lebih baik dana pelebaran tersebut digunakan untuk normalisasi drainase yang ada disepanjang jalan A. yani yang semakin dangkal dan air semakin meluas saat musim penghujan, dengan adanya pelebaran jalan otomatis drainase/sungai akan menyempit dan saya khawatir pada saat musin penghujan banjir akan semakin meluas dan dalam mungkin dihalaman kantor Kecamatan Gambut banjir semakin dalam dan tidak menutup kemungkinan air masuk ke dalam kantor. Wallahu a’lam…..

Tinggalkan komentar

Filed under transportasi

rukun tetangga (RT)

rukun tetangga atau yang sering disingkat dengan RT adalah merupakan suatu unsur terkecil dalam pemerintahan di republik Indonesia. seorang ketua RT mempunyai peran yang sangat penting dalam upaya penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan wilayah sebab ketua RT adalah orang yang langsung berhadapan dengan masyarakat dan yang melihat langsung kondisi riil di masyarakat, tidak seperti lurah atau camat atau penyelenggara (pemimpin) pemerintahan yang lebih tinggi yang hanya tahu kondisi masyarakat berdasarkan laporan masyarakat (termasuk ketua RT).

sebagai ketua dituntut mempunyai jiwa pengabdian yang tinggi yang dilandasi dengan rasa tanggung jawab tanpa memikrkan keuntungan pribadi yang diperoleh dari jabatannya sebagai ketua RT (mungkin gak yaa……) karena tunjangan yang diterima kecil bahkan ada yang tidak pernah mendapatkan tunjangan, sementara dirinya harus bertanggung jawab atas nafkah keluarganya.

mengingat pentingnya peran ketua RT dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan hendaknya perlu dipikirkan oleh Pemerintah Daerah hal-hal sebagai berikut :

1. pemberian stimulan kepada ketua RT

karena seorang ketua RT adalah seseorang yang juga mempunyai kewajiban untuk mencari nafkah bagi keluarganya maka tugas pokok sebagai ketua RT sulit menjadi prioritas dalam kegiatan sehari-harinya, sehingga perlu adanya stimulan berupa pemberian tunjangan atas jabatannya sebagai ketua RT.

2. mengadakan analisa tentang kemampuan atau kinerja ketua RT

maksudnya yaitu adakan semacam evaluasi terhadap ketua RT dalam melaksanakan tugasnya, hasil evaluasi ini sebagai bahan utama dalam menentukan luas wilayahnya atau jumlah rumah tangga yang ada di dalam wilayahnya. jumlah rumah tangga yang terlalu banyak atau wilayah yang terlalu luas sudah pasti akan menyulitkan ketua RT dalam melaksanakana tugasnya misalnya dalam masalah pendataana warganya.

karena data merupakan titik awal dari kebijakan pembangunan mutlak diperlukan data yang valid dan merupakan gambaran nyata dari suatu wilayah. untuk memproduksi data yang valid sangat bergantung pada ketua RT mengenali dan mengawasi setiap warganya. wallahu a’lam…..

1 Komentar

Filed under pemerintahan

REPETISI PEMILU

Pelanggaran kampanye Pemilu
Pelanggaran yang sering terjadi biasanya adanya simpatisan atau bahkan pengurus parpol yang membawa anak dibawah umur saat rapat umum parpol biasanya yang diselenggarakan di tempat terbuka. Bentuk pelanggaran lain yang sering terjadi yaitu adanya money politic yaitu dengan membagi-bagikan uang atau barang oleh pengurus parpol secara langsung kepada masyarakat agar memilih parpol tersebut
Tabulasi perolehan suara sangat lambat
Rekapitulasi perolehan suara bagi Partai Politik dan Calon anggota Legislatif baik yang berasal dari Parpol maupun DPD yang dilakukan oleh KPU Pusat berjalan sangat lambat, hal ini sangat bertolak belakang dengan Quick Count (hitungan cepat) yang dilakukan berbagai lembaga survey yang ada di Indonesia, alhasil Parpolpun akhirnya memberikan kepercayaannya kepada hasil hitungan cepat, dan Parpol telah berani menyusun berbagai strategi dan menentukan arah koalisi berdasarkan hasil hitungan cepat guna menghadapi Pilpres yang akan dilaksanakan bulan Juli 2009.
Mengapa tabulasi perolehan suara yang dilaksanakan oleh KPU baik Pusat maupun Daerah sangat lambat dan menuai banyak protes atau sikap keberatan lainnya atas hasil perhitungan suara?, jawaban dari pertanyaan tersebut kemungkinan karena adanya (dilandasi) rasa curiga dari para saksi Parpol yang hadir dalam penghitungan suara telah terjadi ketidak netralan KPU untuk menguntungkan suatu Parpol atau Caleg karena adanya perbedaan angka perolehan suara yang dicatat saksi Parpol ketika penghitungan pada tingkat TPS. Selain itu juga karena faktor ketidak siapan panitia penyelenggara pemungutan dan penghitungan suara terutama pada tingkat TPS, PPS yang berkedudukan pada tingkat Desa/Kelurahan dan PPK yang berkedudukan pada tingkat Kecamatan, ketidak siapan dalam hal peralatan (dilakukan secara manual) dan sumberdaya manusia sehingga sangat memungkinkan terjadinya Human Error saat proses proses penghitungan perolehan suara, hal ini kecil kemungkinan terjadi pada KPUD Kabupaten/Kota, Provinsi, apalagi KPU Pusat yang mempunyai kesiapan lebih tinggi dalam hal peralatan dan sumberdaya manusia.
Kekecewaan Parpol terhadap tabulasi perolehan suara KPU
Pernyataan dari setiap pengurus parpol yaitu “siap menang dan siap kalah” mungkin maksud para pengurus Parpol siap menjadi pemenang dalam arti mendukung keputusan KPU yang memenangkan parpolnya dan apabila parpolnya dinyatakan kalah telah siap mengajukan protes dan keberatan yang mungkin disertai dengan bukti-bukti walaupun mungkin bukti tersebut hanya rekayasa, atau mungkin parpol yang kalah telah siap dengan memobilisasi masanya untuk demo di KPU Nauzzubillah………….
Masyarakat kecewa terhadap anggota Dewan terpilih
Setelah ditentukan siapa-siapa yang yang akan duduk sebagai legislator di DPR, DPRD Provinsi, DPRD Kabupaten/Kota dan DPD dan setelah pesta demokrasi usai maka timbul pertanyaan, puaskah rakyat Indonesia dengan hasil keputusan tentang siapa-siapa yang akan mewakilinya di Dewan baik tingkat pusat maupun daerah, jawaban untuk para pemilih (bukan Golput) atas pertanyaan tersebut hanya ada dua yaitu “puas” jika caleg pilihannya berhasil menduduki kursi legislatif dan “tidak puas” untuk hal yang sebaliknya. Berdasarkan pengalaman yang telah dilalui dan dirasakan jawaban puas hanya berlaku sesaat, mungkin bisa dikatakan hanya berlaku selama tahun pertama setelah penyelenggaraan pemilu, ditahun-tahun selanjutnya hingga saat pemilu berikutnya yang ada hanya jawaban tidak puas atau lebih tepatnya perasaan ‘kecewa”, kecewa terhadap kinerja, moralitas dan kepedulian terhadap rakyat yang diwakilinya atau dengan kata lain hanya peduli terhadap kepentingan diri sendiri dan partainya. Para anggota Dewan pada tahun kedua dan selanjutnya masa jabatanya sebagai anggota legislatif mulai memikirkan fasilitas yang tergolong mewah untuk dirinya, mereka mulai merasa dirinya adalah orang yang paling penting dan berjasa dalam upaya mensejahterakan rakyat sehingga merasa wajar/layak mendapat penghargaan berupa fasilitas mewah untuk dirinya dan keluarganya. Mereka berpegang pada suatu azas yang sebenarnya mereka buat sendiri untuk menjadi alasan pembenar tindakannya meminta fasilitas mewah yaitu azas “kepatutan”. Wallahu a’lam….

Tinggalkan komentar

Filed under pemilu

onthelmania = orang yg sok menyukai sepeda onthel

di daerahku provinsi kalimantan selatan kini sering terjadi ada sekumpulan orang yang hampir setiap hari libur mereka berkeliling kota dengan mengendarai sepeda onthel, mereka bangga menyebut dirinya onthelmania dan jumlah mereka semakin lama semakin banyak (menurut pengamatan saya sampai saat ini). mereka mengaku mencintai/menyukai sepeda onthel hanya sebatas bagi kesenangan mereka sendiri dalam menvari hiburan dengan kata lain refreshing. mereka tidak menyadari bahwa saat mereka beraksi dijalan raya dengan jumlah yang banyak akan membentuk sebuah iring-iringan sepeda yang panjang yang jelas mengganggu lalu lintas kendaraan lain yang bertujuan bekerja bukan sekedar mencari kesenangan. walaupun mereka telah mengantongi ijin dari kepolisian atau dikawal oleh polisi, namun tetap aja mengganggu kendaraan lain.

saya berani mengatakan mereka hanyalah orang-orang yang pura-pura menyukai sepeda onthel karena mereka tetap menggunakan kendaraan bermotor saat melakukan aktivitas sehari-hari (kekantor, ke pasar dansebagainya) bahkan saat hendak sholat jum’at pun mereka menggunakan kendaraan bermotor walaupun jarak tempuhnya kurang dari 1.000 meter.

gambaran seorang penyuka/pencinta sepeda onthel adalah bila seseorang menggunakan sepeda onthel pada setiap perjalanan yang jarak tempuhnya bisa dicapai cukup dengan sepeda onthel, dengan kata lain hanya menggunakan kendaraan bermotor jika :

1. jarak tempuh terlalu jauh

2. membawa banyak muatan baik orang maupun barang

3. karena hal2 tertentu yang mengharuskan menggunakan kendaraan bermotor (insya Allah postingannya akan segera saya terbitkan)

saya yakin para onthel mania mampu menempuh perjalanan sampai dengan 5.000 meter karena telah terbiasa mengayuh sepeda onthel, hal itu akan sangat positif bila diterapkan pada kegiatan sehari-hari, karena sepeda onthel masih tetap sarana transportasi yang murah, ramah lingkungan dan dapat membantu program pengiritan BBM. wallahu a’lam.

1 Komentar

Filed under transportasi