pernahkah anda melihat seminar atau talkshow atau apa saja yang sejenisnya yang membahas masalah pembatasan usia kendaraan bermotor, penetapan pajak yang tinggi untuk kendaraan bermotor atau membudayakan bersepeda dalam kegiatan sehari-hari. ketiga hal tersebut memang seolah-olah tabu dibicarakan di Indonesia walaupun sebenarnya bisa mengatasi krisis bbm, pejabat, pengusaha bahkan para pakar transportasi pun tak berani membicarakannya. pernah saya lihat tayangan di metro tv sebuah acara yang dipandu rizal malarangeng itu menghadirkan seorang pakar transportasi yang sudah terkenal dan membahas keberadaan angkutan umum busway transjakarta dalam upaya mengurangi kemacetan di jakarta, secara tidak sengaja pembicaraan menyinggung masalah pembatasan usia kendaraan bermotor, sang pakar nampak tak bergairah membicarakannya dan sang pemandu acara pun tidak mau bertanya lebih lanjut dengan kata lain tak bergairah juga. kemudahan untuk memiliki kendaraan bermotor memang mampu memberikan kenyaman hidup bagi masyarakat namun akhirnya menambah beban negara dalam memenuhi kebutuhan bahan bakar dan juga masalah kemacetan lalu lintas .
Dilihat dari sisi permintaan (demand) dan penawaran (supply) pasar minyak dunia, tampak bahwa penawaran tidak sebanding dengan peningkatan demandnya. Data dari petroleum Argus menunjukkan total kebutuhan minyak mentah dunia naik dari 82,4 juta barrel per hari pada tahun 2004 menjadi 83,8 juta barrel per hari pada tahun 2005. Sementara penawaran minyak mentah tahun 2005 dari negara-negara anggota OPEC mencapai 29,7 juta barrel per hari dan penawaran dari negara non OPEC sebesar 51,2 juta barrel per hari. Jika melihat perbandingan antara permintaan dan penawaran minyak mentah dunia ini, terdapat excess demand (kelebihan permintaan) yang cukup siknifikan. Padahal ke depan konsumsi minyak mentah dunia ini akan semakin meningkat sejalan dengan peningkatan jumlah penduduk dunia, di sisi lain produksi minyak mentah dunia cenderung menurun. Satu tahun terakhir produksi minyak dunia menurun hingga 7 %. Penurunan ini menyebabkan dunia kehilangan kemampuan pasokan minyak mentah sebesar 5,6 juta barrel per hari. Dari melihat karakteristik permintaan dan penawaran minyak dunia yang sedemikian itu dapat dikatakan bahwa kedepan dunia akan mengucapkan selamat tinggal pada harga minyak murah. Tentu kondisi pasar minyak dunia ini tidak menguntungkan bagi perekonomian domestik. Di tahun 1970-an kita memang mendapatkan spillover yang menguntungkan dengan adanya krisis minyak dunia saat itu yang ditandai kenaikan harga minyak dunia yang begitu siknifikan. Hal itu karena saat itu kita adalah salah satu dari negara yang tergolongkan sebagai negara eksportir minyak dunia. Tetapi sekarang situasi sudah berubah, harian The Asian Wall Street Journal (18/5/2004), misalnya memaparkan fakta mengenai status Indonesia yang sudah menjadi negara pengimpor minyak neto (net oil impoter). Pasalnya sejak Maret 2004 jumlah minyak yang diimpor untuk keperluan BBM dalam negeri sekitar 484.000 bph sudah melampaui jumlah minyak yang bisa diekspor (sekitar 448.000 bph).
Kebijakan pemberian subsidi BBM dimulai sejak tahun anggaran 1977/1978 dengan maksud untuk menjaga stabilitas perekonomian nasional melalui penciptaan stabilitas harga BBM sebagai komoditas yang strategis. Namun dalam perjalanannya subsidi BBM ini ternyata menimbulkan masalah tersendiri. Masyarakat cenderung boros menggunakan BBM dan ada indikasi bahwa alokasi subsidi BBM lebih banyak dinikmati oleh kelompok masyarakat berpenghasilan tinggi yang seharusnya tidak perlu mendapatkan subsidi.
Dilihat dari sisi pemakai BBM, sektor transportasi merupakan pemakai BBM terbesar. Kemudian di susul oleh sektor rumah tangga, sektor industri dan pembangkit listrik. Sedangkan, jika dilihat ketersediaannya, selama ini kebutuhan BBM dipasok oleh Pertamina dan impor. Beberapa jenis energi BBM yang sebagian penyediaannya melalui impor adalah avtur, minyak tanah, minyak solar, minyak diesel, dan minyak bakar.
Tabel Pangsa Konsumsi BBM Persektor Tahun 1994-2003
| Tahun | Industri(%) | Rumah Tangga & Komersial (%) | Transportasi(%) | Pembangkit Listrik(%) |
| 1994 | 23.2 | 21.6 | 45.8 | 9.4 |
| 1997 | 21.1 | 19.0 | 47.9 | 12.0 |
| 1998 | 21.5 | 20.7 | 48.8 | 9.0 |
| 2000 | 21.7 | 22.2 | 47.1 | 9.0 |
| 2003 | 24.0 | 18.2 | 47.0 | 10.7* |
Sumber: Ditjen Migas. diolah.
*Termasuk sektor lain-lain
Satu hal yang mengkhawatirkan adalah bahwa ada kecenderungan impor BBM kian meningkat. maka bukan tidak mungkin suatu saat Indonesia akan mengimpor sepenuhnya kebutuhan BBM bila upaya mendiversifikasi pemakaian energi non BBM tidak dilakukan secara serius. Pada tahun 1992 pemakaian BBM sebagai energi final sebesar 201.577 ribu SBM. ternyata kilang dalam negeri hanya mampu memasok sekitar 167.944 ribu SBM. sehingga harus mengimpor sekitar 33.633 ribu SBM atau bila dirata-ratakan setiap harinya harus mengoimpor BBM sebanyak 92.145 SBM. Angka impor BBM ini terus meningkat hingga mencapai 107.935 ribu SBM pada tahun 2003 atau sekitar 32.75 % dari total konsumsi BBM dalam negeri.
wacana pembatasan konsumsi bbm untuk kendaraan bermotor untuk mengurangi belanja negara untuk bbm ditentang para pemilik kendaraan bernotor, rencana kenaikan harga bbm agar pemerintah mempunyai dana yang cukup untuk belanja bbm dalam jumlah yang diperluka di demo habis-habisan. seandainya pemerintah bisa mengurangi belanja negara untuk bbm akan terjadi penghematan dana dan bisa digunakan untuk kesejahteraan rakyat.
namun hal yang penting dilakukan adalah pemerintah harus memberikan contoh bagaimana cara bertindak bijak dalam menggunakan kendaraan dengan kata lain jangan perjalanan menggunakan kendaraan bermotor pribadi jika masih bisa ditempuh dengan kendaraan tak bermotor. marilah kita bersahaja dinegeri yang miskin ini, wallahu a’lam bisshawab.


1 Tanggapan
Juni 8, 2008 pukul 4:05 am
makanya pemerintah sby-jk menganjurkan untuk menghemat bbm sesuai singkatannya susah bensin ya jalan kaki