Bersepeda adalah budaya orang barat yang kemudian diikuti oleh bangsa/orang timur termasuk orang Indonesia sebagai sarana transportasi dalam kegiatannya sehari-hari. Perkembangan teknologi bangsa barat menghasilkan temuan berupa mesin yang dapat menggerakkan roda sehingga terciptalah kendaraan bermotor, lalu bagaimanakah keberadaan sepeda di masyarakat ?.
Untuk menjawab pertanyaan tadi kita harus tahu apa yang terjadi di negara lain mengenai keberadaan sepeda di tengah masyarakatnya, cuplikan dari Buku yang berjudul “Budaya Barat dalam Kaca mata Timur” ditulis oleh Abdullah Sumrahadi, Kandidat Doktor Sosiologi UGM Yogyakarta.yang berisikan penggalan kisah nyata sebagai berikut : Edo, mahasiswa Antropologi Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta, terperanjat ketika kali pertama menginjakkan kaki di kota Freiburg, Jerman. Sebelum berangkat ke kota tujuan, ia membayangkan Freiburg adalah sebuah kota metropolitan yang dipenuhi dengan gedung- gedung bertingkat di mana lalu lintasnya disesaki dengan sederet mobil-mobil mewah berselera tinggi khas Eropa. Ternyata, fakta berbicara beda. Freiburg adalah kota nan asri yang memiliki lahan terbuka cukup luas dan di sepanjang jalan terhampar areal pertanian yang memperindah pemandangan kota .
Bukan mobil mewah khas Eropa yang menjadi alat transportasi utama masyarakatnya. Sepeda ontel ternyata yang menjadi alat transportasi favorit masyarakat di Freiburg . Hampir semua orang di Freiburg menggunakan sepeda sebagai alat transportasi, sehingga di sana sepeda tidak diatribusikan pada golongan masyarakat tertentu. Kenyataan itu sungguh berbeda dengan di Indonesia; sepeda selalu diidentikkan dengan alat transportasi yang digunakan oleh kalangan bawah.
Selain kisah nyata di atas kita lihat Tabel perbandingan prosentase moda perjalanan untuk semua tujuan di antara negara maju di Eropa, Amerika dan Kanada. (sumber: John Pucher, Transportation Quarterly, 1998-2001). Dikutip dari artikel Bambang Setia Budi, Peneliti pada Institute for Science and Technology Studies (ISTECS) bidang Kajian Tata Kota , Staf Departemen Arsitektur ITB dan Kandidat Doktor di Toyohashi University of Technology, Jepang
Perbandingan prosentasi jenis moda perjalanan (untuk semua tujuan)
|
Negara |
Sepeda |
Jalan kaki |
Transit publik |
Mobil |
Lainnya |
|
Belanda |
30 |
18 |
5 |
45 |
2 |
|
Denmark |
20 |
21 |
14 |
42 |
3 |
|
Jerman |
12 |
22 |
16 |
49 |
1 |
|
Swiss |
10 |
29 |
20 |
38 |
1 |
|
Swedia |
10 |
39 |
11 |
36 |
4 |
|
Austria |
9 |
31 |
13 |
39 |
8 |
|
Inggris |
8 |
12 |
14 |
62 |
4 |
|
Perancis |
5 |
30 |
12 |
47 |
6 |
|
Italia |
5 |
28 |
16 |
42 |
9 |
|
Kanada |
1 |
10 |
14 |
74 |
1 |
|
Amerika Serikat |
1 |
9 |
3 |
84 |
3 |
Pada tabel itu, negara Amerika menempati urutan terendah dalam penggunaan sepeda. Maka dapat dimengerti jika negeri paman sam ini juga terkenal paling boros dalam penggunaan energi, khususnya BBM. Dapat diduga, tampaknya ada korelasi antara kebutuhan minyak mereka dengan jumlah pengguna sepeda dan pejalan kaki dibanding dengan pengguna mobil di negara itu. Dari tabel John Pucher tersebut, diperlihatkan bahwa prosentase jumlah pengguna sepeda hanya 1% dan pejalan kaki hanya 9% dari total moda perjalanan lainnya. Sementara prosentase terbesarnya adalah pengguna mobil yang mencapai 84%.
Meski demikian, negara Amerika juga melakukan usaha penghematan energi ini dengan di antaranya memperbesar proyek pembuatan jalur sepeda dan pejalan kaki. Tercatat, sejak tahun 1998 hingga awal 2003, negeri ini telah mengucurkan dana sebesar 3 milyar dollar AS khusus untuk proyek pembuatan jalur sepeda dan pejalan kaki melalui Transportation Equity Act untuk abad 21. (Janet Larsen, Earth Policy Institute, 2002). Kebijakan Pemerintah Kota tentang Ada atau tidaknya tindakan untuk membangun fasilitas untuk pengendara sepeda selama ini bergantung pada demand, misalnya bila volume arus lalu lintas sepeda pada suatu ruas jalan telah mencapai angka tertentu dan intensitas kecelakaan pengendara sepeda.
Pola hidup konsumtif masyarakat Indonesia menyebabkan sepeda semakin ditinggalkan, karena sikap konsumtif masyarakat Indonesia lebih didasari oleh rasa gengsi dan lain sebagainya sehingga mengabaikan nilai-nilai positif atau keuntungan bersepeda dalam menempuh perjalanan jarak pendek. berkembang pula stigma yang kuat di masyarakat bahwa bersepeda identik dengan kemiskinan sehingga hanya orang miskinlah yang bersepeda. Budaya gengsi pun merebak kuat, karena apa saja sering dilihat dari sudut pandang materi atau harganya. Termasuk menilai seseorang sering pula dilihat dari apa yang dinaiki/dikendarainya. Stigma ini menambah kekeliruan lain, yakni kebijakan diskriminatif, yang dianggap kaya (bermobil) semakin dilayani dan dimanjakan, sementara yang dianggap miskin (bersepeda) semakin terabaikan dan tak terlindungi. Wajarlah jika akhirnya sangat sedikit jumlah pengguna sepeda di kota-kota besar di Indonesia . Sebagai gambaran, menurut Darmaningtyas melalui survey INSTRAN di akhir Juni 2005, dalam sehari jumlah sepeda yang melewati Jalan Sudirman Jakarta dari arah Jalan Thamrin hanya 52 unit, sedangkan yang menuju ke arah Jalan Thamrin hanya mencapai 122 unit. Mereka itu adalah para pedagang keliling, seperti siomay, bakso, dan roti. Terlalu minim pelajar dan pekerja kantoran yang bersepeda. (Darmaningtyas, Kompas, 4 Agustus 2005). Survey tersebut memang di lakukan kota Jakarta namun perilaku masyarakatnya dalam berlalu lintas tidak berbeda dengan kota Banjarmasin jadi bila survey yang sama dilakukan di Banjarmasin hasilnya akan tidak jauh berbeda.
Mengapa justru di negeri miskin dan banyak hutang ini, pemerintah daerah atau kotanya sering memanjakan pengguna mobil dengan membangun jalan raya, jalan layang atau jalan tol. Kemacetan bukannya berkurang tetapi malah semakin sulit diatasi, karena jalan-jalan itu justru semakin mengundang banyaknya pengguna mobil dan kendaraan bermotor. Karena banyaknya mobil dan kendaraan motor di jalan, sehingga sering juga timbul kemacetan, akhirnya kota pun menjadi semakin jauh dari hemat energi. Bersegeralah melakukan program penghematan! Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Begitulah jika kita membaca data-data cadangan energi yang sering ditulis para peneliti/pakar energi, termasuk yang disampaikan presiden SBY bahwa minyak bumi Indonesia akan habis sekitar 18 tahun ke depan, gas 60 tahun, dan batubara 150 tahun ke depan (detik.com, 28 September 2005)
Mengapa justru penduduk negara yang IPTEKnya lebih tinggi dari kita yang mau menggunakan sepeda, mengapa kita yang IPTEKnya masih rendah (dengan kata lain masih bodoh) tidak mau berguru atau meniru orang lain yang lebih pandai, jawabnya karena gengsi merupakan hal yang sangat diperlukan dan harus dipunyai oleh orang Indonesia . Wallahu alam bishawwab.


1 Tanggapan
Agustus 5, 2008 pukul 4:49 am
ya masyarakat kita terinfeksi budaya modern dan jenuh dengan budaya tradisional, gengsi dan tidak mau dikatakan ketinggalan zaman